Rabu, 4 Februari 2026, Guru Besar Program Studi S1 Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Prof. FX. Sugiyanto mengikuti dialog publik bertajuk “Membangun Optimisme dengan Fundamen Ekonomi 2026” yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan platform media sosial. Kegiatan ini menghadirkan narasumber lainnya yaitu Andi Reina Sari H., Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, serta Dialog publik ini dipandu oleh Sigit Rudianto dan dapat disaksikan melalui siaran YouTube pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=j6pVONQMWxw.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber membahas berbagai isu strategis perekonomian nasional, termasuk konsep “Prabowo-nomics” yang menjadi salah satu pendekatan dalam arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Diskusi juga menyoroti berbagai program pembangunan ekonomi pemerintah, termasuk penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diharapkan mampu memperkuat ekonomi desa, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta memperluas akses pembiayaan dan distribusi ekonomi di tingkat lokal.
Selain itu, dialog juga menyoroti pentingnya peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, khususnya melalui kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Stabilitas harga dan nilai tukar dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan investor serta memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Diskusi juga menyoroti kontribusi Provinsi Jawa Tengah dalam perekonomian nasional. Meskipun dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur, Jawa Tengah memiliki tingkat upah minimum dan struktur industri padat modal yang relatif lebih rendah, provinsi ini justru dikenal sebagai wilayah padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dalam beberapa tahun terakhir juga mulai bermunculan berbagai industri baru di Jawa Tengah, yang berpotensi memperkuat struktur ekonomi daerah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih inklusif.





