Semarang, 15 Juli 2025 – Universitas Diponegoro (UNDIP) sukses menjadi tuan rumah The 20th Indonesian Regional Science Association (IRSA) International Conference 2025 yang berlangsung pada 14–15 Juli di Hotel Patra, Semarang. Acara ini merupakan kolaborasi antara Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (FT) dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UNDIP, mengusung tema “Localizing Smart Economy and Infrastructure for Inclusive Growth and Sustainability”.
Sebagai rangkaian pembuka, pada 13–14 Juli 2025 telah diselenggarakan agenda pre-conference yang bertempat di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNDIP. Kegiatan ini mencakup workshop, diskusi akademik, dan sesi berbagi pengalaman yang memperkuat kapasitas peserta dalam bidang ekonomi wilayah, pembangunan berkelanjutan, dan pendekatan berbasis data spasial.
Konferensi utama diikuti oleh 343 peserta, terdiri dari 258 presenter dan 85 peserta non-presenter, yang berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Australia, Singapura, Korea, Belanda, dan Indonesia. Para peserta meliputi akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, serta praktisi pembangunan wilayah. IRSA 2025 menjadi forum lintas sektor untuk membahas isu-isu strategis seperti ekonomi digital, infrastruktur cerdas, ketimpangan wilayah, serta inklusi sosial dan gender.
Kegiatan ini juga menghadirkan lima pembicara kunci (plenary speakers) yang merupakan tokoh terkemuka dari berbagai institusi internasional dan nasional. Mereka adalah Prof. (H.C. Undip) Ir. Bambang Susantono, MCP, MSCE, Ph.D. dari Cities and Local Government Institute Asia-Pacific, Prof. Nicholas Phelps dari The University of Melbourne, Assoc. Prof. Rita Padawangi dari Singapore University of Social Sciences, Prof. F.X. Sugiyanto dari Universitas Diponegoro, dan Prof. Arnold Tukker dari Leiden University. Kelima narasumber ini berbagi wawasan strategis mengenai pengembangan wilayah berbasis ekonomi cerdas, tata kelola inovatif, dan keberlanjutan dalam konteks tantangan global dan lokal.
Partisipasi berbagai komunitas turut memperkaya dinamika diskusi. Perwakilan dari Albino Indonesia Family, Tarsisius Tukang SE, M.Pd., menyampaikan bahwa konferensi ini memberi pemahaman baru terhadap isu-isu tren, terutama dalam kaitannya dengan keterlibatan kelompok rentan. Sementara itu, Aida Mudjib dari KONEKSI Disability Network mengapresiasi penyelenggara yang menyediakan aksesibilitas ruang yang luas dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Dari kalangan akademisi internasional, Prof. Arnold Tukker dari Leiden University memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan konferensi yang dinilai sangat baik. Ia menyoroti bahwa lebih dari 90% peserta merupakan warga negara Indonesia, namun mampu berpartisipasi aktif dalam bahasa internasional. Ia juga menambahkan pentingnya menjaga arah pembangunan ekonomi yang merata agar kesenjangan sosial semakin menurun.
Konferensi ini turut didukung berbagai lembaga seperti KONEKSI, CSIS, SMI Institute, The Asia Foundation, dan Article 33 Indonesia. Diharapkan, IRSA 2025 menjadi momentum strategis dalam merumuskan kebijakan pembangunan wilayah yang inklusif, berkelanjutan, dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Semangat kolaborasi yang terbangun dalam IRSA 2025 diharapkan terus berlanjut dan menginspirasi agenda riset dan kebijakan pembangunan di masa depan. Sampai jumpa pada IRSA 2026 yang akan diselenggarakan di Lampung!






